Select Page

Tips Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati, Dengan mengajarkan anak empati, diharapkan ia akan memiliki kemampuan untuk menempatkan diri, memahami perasaan orang lain, dan mengontrol emosi dengan baik.

Menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sejak dini sangatlah penting. Dengan adanya rasa empati, anak dapat membangun dan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.


Tips Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati

Empati adalah hal penting yang harus dimiliki semua orang,  Empati adalah kemampuan untuk dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut.

Memiliki rasa empati berarti mampu memahami apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Tak hanya itu, rasa empati juga membuat seseorang memahami kondisi orang lain, dapat benar-benar merasakan dan memikirkan bagaimana ketika berada pada situasi tersebut.

Tak ada yang salah dengan bersikap tegas maupun lunak kepada anak-anak. Namun, ada satu pendekatan pengasuhan yang sedang diperbincangkan akhir-akhir ini, yakni peaceful parenting, yang mengedepankan cara-cara lembut dan penuh kesadaran.

Pengasuhan ini juga menonjolkan solusi kooperatif dan lebih mengajak anak untuk berempati dalam menyadari kesalahannya dibanding menghukum, sehingga kelak ia mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

Tanpa adanya empati di dalam diri anak, maka mereka cenderung akan bersikap tidak peduli dengan sekitarnya. Anak-anak juga tidak mau dan tidak bisa merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Bahkan, anak juga bisa saja tidak menunjukkan rasa menyesal setelah menyakiti orang lain.

Dan hasilnya, anak akan lebih sering merendahkan, meremehkan, atau mengucilkan orang lain yang sedang mengalami kesulitan.

Melalui hubungan orang tua kepada anak yang didasari hubungan saling percaya, menghormati dan mencintai ini, diharapkan anak mampu mengembangkan keterampilan sosial, keterampilan hidup, dan kemampuan berpikir kritisnya sehingga kelak menjadi sosok yang cakap, mampu menyelesaikan konflik, bertanggung jawab, dan menghormati diri sendiri dan orang lain.

Baca Yuk :  Desainer Monica Ivena Menampilkan Gaun Terbaru Bermakna Ketangguhan

Tips Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati

Berikut 12 tips transisi menuju peaceful parenting dari Laura Markham, Ph.D., penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids: How To Stop Yelling and Start Connecting sebagaimana dilansir dari psychologytoday.com.

  1. Berdamai dengan Diri Sendiri
    Atur emosi Anda. Setiap kali Anda merasa kesal atau marah, lakukan ini: stop bicara, hentikan aktivitas, dan tarik napas.
  2. Fokus pada Interkoneksi
    Mulailah fokus membangun bonding yang lebih baik. Tanpanya, anak akan selalu menguji kesabaran Anda dan tak termotivasi memperbaiki perilakunya.
  3. Jelaskan Apa yang Terjadi
    Saat anak sudah cooling down, jelaskan alasan Anda meminta anak menjalani konsekuensi atas perbuatannya. Jangan lupa, tetap beri anak motivasi, misalnya, dengan mengatakan anak sudah bersikap lebih baik dari sebelumnya.
  1. Ajak Anak Lebih Kooperatif
    Misalnya, katakan pada anak bahwa Anda ingin semua orang bersama-sama membuat suasana menjadi lebih baik. “Mama akan berusaha keras agar tidak marah-marah, mendengarkan dan bersikap baik sama Kakak. Tapi Kakak juga berjanji agar selalu baik sama Adik, ya?”.
  1. Win-Win Solutions
    Jangan marah-marah dulu saat anak terlibat masalah, tapi tawarkan solusi yang lebih baik. Misalnya, saat si sulung memarahi si adik karena memainkan mainan kesukaannya tanpa izin, katakan, “Mama tahu kamu marah pada adikmu, tapi jangan memukul adik, ya. Yuk, kita cari saja tempat menyimpan yang aman agar adik tidak bisa mengambilnya sembarangan.”
  2. Buat Batasan
    Semakin Anda fleksibel dalam menangani kesalahan anak, maka semakin baik kesan Anda di mata anak. Terapkan batasan dengan tetap mengindahkan sudut pandang anak. Saat ia menolak untuk lekas mandi dan berhenti bermain, coba katakan, “Kamu ingin terus main dan tidak berhenti sampai saatnya tidur. Ya, Mama yakin kalau kamu sudah besar, kamu main sepanjang malam setiap hari. Tapi sekarang, kita mandi dulu ya.”
  3. Bantu Anak Mengeluarkan Emosi
    Saat anak menerima konsekuensi, ia akan merasakan sebuah gelombang emosi yang diterjemahkan sebagai kemarahan. Saat itulah ia mulai berulah. Hal ini bukan tantangan pribadi untuk Anda, namun ia hanya perlu mengeluarkan apa yang dirasakannya namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bantu anak mengenali apa yang dirasakannya dan bagaimana mengungkapkannya dengan baik.
  4. Beri Rasa Aman
    Saat anak kesal, tetaplah tenang dan jangan terpancing untuk marah. Semakin Anda mampu menunjukkan sikap berempati dan sabar, semakin anak merasa aman sehingga ia mampu mengurai kekesalannya sendiri. Saat anak mampu mengekspresikan emosi pada Anda, semakin ia mampu menyembuhkan diri sendiri.
  5. Jelaskan dengan Cerita
    Gunakan cerita untuk mempermudah anak memahami emosi. Misalnya, ceritakan bagaimana Anda dulu sering marah-marah karena tidak mengerti apa yang diinginkan anak. Tapi sekarang, Anda berusaha keras untuk menahan marah sehingga ia tak perlu takut mengatakan yang diinginkan. Saat bercerita,tetaplah kedepankan empati dan jangan menganalisis sehingga tak berkesan menggurui.
  6. Reparasi
    Saat anak mengulang kesalahan, kendati Anda pernah memberinya konsekuensi, jangan buru-buru merasa gagal. Ajarkan diri Anda untuk mereparasi konsekuensi pada anak. Ajak anak berdiskusi secara pribadi. Biarkan ia bercerita sesuai sudut pandangnya, dengarkan dan cobalah berempati. Setelah ia mampu melogikakan kekesalannya, beri beberapa penekanan hal yang kurang tepat tanpa menyalahkan atau mengguruinya.
  7. Role Model dalam Memaafkan
    Jangan pernah memaksa anak untuk meminta maaf setelah membuat kesalahan, itu hanya akan membuatnya makin kesal atau benci pada orang lain. Akan lebih baik jika Anda memberi contoh meminta maaf pada orang lain, yang kelak ditiru oleh anak.
  8. Jangan Masalahkan Kemunduran
    Jika Anda merasa masih melakukan kesalahan-kesalahan pengasuhan tradisional, maafkan diri Anda. Ya, parenting itu memang sulit apalagi saat memulai bertransisi ke peaceful parenting. Namun lama kelamaan ini akan menjadi lebih mudah.
Baca Yuk :  Update E-wallet Terpopuler di Indonesia 2022, Gopay Nomor 1

Rasa empati sudah mulai terbentuk sejak bayi. Anak-anak sudah mampu menunjukkan rasa empatinya sejak usia 8 hingga 10 bulan. Sejak usia tersebut, anak umumnya sudah bisa menunjukkan bentuk empati mereka ketika melihat seseorang yang menangis.

Secara tak sadar, mereka akan memperlihatkan raut wajah yang tampak sedih juga. Meski begitu, tidak semua bayi dapat menunjukkan rasa empati ini karena setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda.

Setiap orang, termasuk anak-anak, harusnya memiliki kemampuan untuk berempati. Empati bisa dibilang sebagai salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap orang.

Jika anak tumbuh tanpa rasa empati, ia akan sulit mendapatkan teman karena ia dijauhi atau tidak disukai teman-temannya. Apabila hal tersebut terus-terusan terjadi, tentu akan berpengaruh pada keadaan jiwanya saat dewasa. Saat anak dewasa, ia akan jadi lebih mudah stres, cemas, depresi, dan mudah putus asa.

Baca Yuk :  Resep Ide Jualan Roti Goreng Kari

Demikian Tips Pengasuhan agar Anak Memiliki Empati, Melatih anak berempati dapat dilakukan dengan cara mengajaknya untuk memposisikan dirinya sebagai orang lain.Orang tua merupakan teladan bagi anak, sehingga penting untuk memberikan contoh yang baik, termasuk dalam melatih empati anak.

Referensi: alodokter.com, parenting.co.id



Tags : , , , , ,

Artikel Sebelumnya : « | Artikel Sesudahnya : »