Tips Mengajarkan Anak Untuk Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan, Menurut psikoterapis, Pembiasaan untuk berani mengungkapkan pikiran dan perasaan sebenarnya harus dimulai sejak kecil.

Dikutip dari Parents, ” Mengajari anak untuk bersuara dan tegas adalah keterampilan hidup penting yang sangat bermanfaat bagi masa depan mereka. Para ahli mengatakan keterampilan asertif seperti ini kelak dapat membantu anak saat dewasa saat membina hubungan, baik hubungan romantis, persahabatan, dalam lingkungan kerja atau sekolah, atau mungkin dengan dirinya sendiri,” kata Mia Rosenberg, seorang psikoterapis anak.


Tips Mengajarkan Anak Untuk Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan

Tak semua orang bisa mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan terbuka, Sebagian anak lebih memilih untuk menyimpannya sendiri atau melakukan hal lain demi mengeluarkan emosinya.

Pada tahun 1991, studi American American Association of University Women tentang anak perempuan terkait dengan harga diri menunjukkan, pada usia 9 tahun, sebagian sebagian besar anak perempuan percaya diri, tegas, dan merasa positif tentang diri mereka sendiri.

Namun sayangnya, ketika mencapai sekolah menengah, kurang dari sepertiga yang masih merasa seperti itu. Lebih dari 20 tahun kemudian, kesimpulan penelitian masih sama: harga diri anak perempuan “menurun” setelah usia 9 tahun, menurut laporan 2007 dari American Psychological Association (APA).

Baca Yuk :

Menurut studi dari Pusat Studi Anak Universitas New York, ini terjadi karena pada sekitar usia 10 tahun, fokus anak perempuan mulai bergeser dari prestasi dan kemampuan, ke penampilan.

Studi APA juga mengutip bahwa seksisme anak perempuan adalah dalang utamanya, menyebabkan anak perempuan melihat harga diri mereka identik dengan daya tarik seksual mereka. Hasilnya, mereka menjadi pasif, sadar diri, terobsesi dengan penampilan dan, pada akhirnya, tidak bahagia dengan diri mereka sendiri.

Peran orang tua diperlukan sejak anak emas dalam kandungan hingga dewasa sangat berperan untuk mengajari anak hingga memenuhi kebutuhannya.

Anak harus berani mengungkapkan perasaannya, sehingga orang tua dapat mengetahui kebutuhannya secara pasti. Hal ini sangat penting untuk mendorong anak mengekspresikan emosinya, serta menghindari kesalahpahaman antara orang tua dan anak.

Berikut ini adalah Tips Mengajarkan Anak Untuk Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan, yang telah dLuz rangkum dari beberapa sumber yaitu:

  • Komunikasi Terbuka
    Komunikasi merupakan pondasi penting sebuah hubungan, jadi dorong anak untuk terbuka tentang pemikiran dan perasaannya. Saat berkomunikasi, pastikan kamu mendengarkannya secara seksama dan tidak menghakimi perasaannya. Hindari interupsi saat si kecil berbicara karena dapat memotong informasi anak dan menciptakan kesalahpahaman. Sebagai orang tua, cobalah untuk berbagi perasaan senang dan sedih agar anak mengerti bahwa setiap perasaan itu penting.
  • Biarkan anak berbicara sendiri
    Baik itu menyapa teman yang berpapasan dengan di jalan atau memesan makanan sendiri di restoran, biarkan anak berbicara sendiri. Hindari untuk selalu jadi ‘juru bicara’ anak. ” Orang tua ingin membuat hidup lebih mudah bagi anak-anak mereka, terutama saat anak sedang malu, padahal ini tak selalu tepat,” kata Marcie Beigel, BCBA-D, spesialis perilaku dan pendiri Behavior and Beyond di New York. Orangtua harus menghentikan kebiasaan mengatur dan berbicara atas nama anak. Dorong anak untuk berbicara sendiri dalam berbagai situasi.
  • Hargai keputusannya
    Orang tua dan anak sering beda pendapat, cobalah beri kesempatan bagi mereka melalui kemandiriannya agar berkembang. Saat keputusan anak salah, mereka akan belajar tentang suatu kesalahan dan ajarkan cara untuk memperbaikinya. Dan jika keputusan anak benar, mereka akan belajar bagaimana memutuskan sesuatu yang baik pula di masa mendatang. Sebaiknya hindari menjadi orang tua yang seolah-olah benar, sebab anak pun juga punya pemikirannya sendiri.
  • Cobalah untuk tidak menghakimi
    Anak cenderung sangat hati-hati memutuskan kapan mereka akan mengangkat topik pembicaraan tertentu pada orangtuanya. Saat merasa dihakimi, anak mungkin malah menutup diri. ” Penting bahwa ketika anak-anak mencoba untuk mengangkat suatu topik, orangtua dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Ini berarti tidak mengajukan pertanyaan yang dapat memancing anak untuk membela diri,” .
  • Berorientasi pada solusi
    Ketika anak menghadapi masalah, cobalah menyajikan pertanyaan yang mengarah pada pemecahan masalah. Meskipun anda tahu jawabannya, pastikan anak berpikir dulu dan memutuskan apa yang menjadi kebutuhannya.
  • Lakukan diskusi yang seru
    Sempatkan waktu luang setiap hari untuk melakukan percakapan yang seru dengan anak-anak. Mungkin saat makan atau jalan-jalan keluarga. ” Bicarakan dengan anak-anak tentang topik yang penting bagi keluarga dan tanyakan pendapat mereka dan tunggu jawaban mereka,” kata Dr. Beigel. Jika anda penasaran dengan pikiran anak-anak. Disarankan untuk mengajukan pertanyaan seperti: ” Di mana kakak atau adik mempelajarinya?” dan ” Wah seru, coba ceritakan lebih banyak” .
  • Berikan pilihan pada anak sejak dini
    Berikan anak pilihan sejak dini, misalnya, Ingin makan pisan atau apel? Mau pakai baju yang mana? Kakakatau adik lebih suka belajar apa? Ini mungkin tampak seperti pilihan sederhana, tetapi dapat memberikan pengaruh yang besar. ” Jenis pilihan ini akan membantu anak kecil terbiasa memilih dan berbicara untuk apa yang mereka inginkan. Hal ini akan memicunya melakukan analisis kelebihan dan kekurangan dari pilihannya untuk kemudian diungkapkan tanpa perlu takut,” . Jangan selalu menentukan segala hal untuk anak. Sesekali biarkan ia membuat keputusan sendiri, ini sangat penting bagi kemampuan analisis dan keberaniannya.
  • Latih anak untuk dapat mengakui perasaan
    Anak yang berani bukan berarti dia tidak takut terhadap apapun. Maka dari itu, latihlah anak untuk dapat memvalidasi perasaannya. Jangan paksa anak untuk merasa baik-baik saja sementara ia sangat merasa ketakutan. Jika anak memberikan reaksi berlebihan pada hal-hal yang sekiranya menurut Anda tidak terlalu membahayakan, biarkan saja. Jika pada kondisi tersebut anda perlu memvalidasi perjuangan anak. Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan dihargai. Anak juga lebih berani untuk mengekspresikan dan mengakui perasaannya.
  • Beri anak informasi
    Jika anak merasa ketakutan, tanyakan apa yang menjadi penyebabnya. Setelah itu, beri anak penjelasan sesuai usia mereka. Pasalnya, anak-anak kerap merasa takut sebab mereka salah paham pada hal-hal yang mereka tidak ketahui informasinya. Jangan lupa juga beri anak penjelasan bahwa mereka tidak perlu merasa terlalu takut. Beri juga anak keyakinan anda akan selalu berada di sisi mereka sehingga mereka dapat merasa lebih aman.
  • Beri anak contoh
    Agar anak menjadi anak yang pemberani tidak dapat dilakukan hanya dengan menasehatinya saja. Namun, Anda juga perlu memberikan contoh. Anak adalah seorang peniru ulung. Ia akan mencontoh segala hal yang ia lihat dan ia dengar tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Untuk itu, berikan anak contoh bagaimana merespon rasa takut itu dan dapat tetap tenang dalam menghadapi suatu hal. Selain itu, Moore juga mengungkapkan jika ayah dan bunda juga dapat memberikan keyakinan kepada anak bahwa mereka mampu mengatasi rasa takut tersebut. Seorang psikolog anak bernama Novita Tandry juga menyebutkan jika proses pembentukan karakter anak menjadi peran dari orang tua, khususnya ibu. Dalam hal ini, seorang ibu menjadi contoh pertama bagi anak-anaknya. Ibarat kata, ibu merupakan role model bagi anak.
  • Tumbuhkan kedekatan bersama anak
    Jika anak merasa takut akan suatu hal, ajak anak untuk mengenal lebih dalam hal tersebut. Anda dapat mengenalkannya pada momen-momen tertentu saat Anda sedang bersama anak. Tapi sebelumnya, bangun kedekatan Anda bersama anak terlebih dahulu. Jika kedekatan Anda dan anak Anda sudah terbangun, anak akan jauh lebih percaya pada apa yang Anda ucapkan. Anda juga akan lebih mudah untuk membangun komunikasi dengan anak Anda.
  • Lakukan secara perlahan
    Kenalkan pada anak hal-hal yang membuat ia merasa takut. Lakukan hal tersebut secara bertahap. misalnya saat anak merasa gugup dan takut untuk ikut karate, ajak anak untuk mengenal karate dulu lebih jauh.
  • Apresiasi keberhasilan anak
    Saat anak berhasil mengelola rasa takutnya, jangan lupa untuk memberikan apresiasi. Anda dapat memberi anak pujian dan ungkapan-ungkapan lain yang menumbuhkan semangat anak. Dan sebaiknya untuk selalu mengingat momen keberhasilan anak. Saat anak mulai merasa takut lagi, Anda dapat mengingatkan anak pada momen tersebut.
  • Mendidik anak dengan sabar, tanpa emosi
    Ada kalanya, sebagai orang tua merasa capek, terlebih saat anak tidak menurut. Pada kondisi ini, tak jarang orang tua akan membentak anak, memarahi, atau bahkan mengancamnya. Membentak, memarahi, dan mengancam anak ternyata menjadi salah satu penyebab anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Jika hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang, anak akan merasa rendah diri, tertekan, dan selalu takut untuk melakukan sesuatu. Ketika mendidik anak agar berani, sebaiknya Anda dapat menahan emosi Anda. Jangan biarkan anak semakin merasa takut dengan bentakan, hukuman, atau cacian yang Anda berikan.
  • Ajak anak untuk berpetualang
    Anak-anak umumnya memiliki rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi. Untuk itu, Anda dapat mengajaknya untuk melakukan hal-hal baru. Ajak juga anak untuk berpetualang dan menciptakan pengalaman-pengalaman baru.
  • Bangun rasa percaya diri anak
    Anda dapat memulai dengan membangun rasa percaya diri anak agar anak menjadi berani, biasanya anak yang berani memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Membangun rasa percaya diri anak tidak perlu hal-hal yang sulit. Anda dapat melakukannya dari hal-hal yang sederhana. Cobalah untuk membiarkan anak untuk melakukan sesuatu sendirian. Jika ia berhasil, jangan lupa untuk memberikan pujian. Semakin sering hal itu dilakukan, anak akan semakin merasa percaya diri. Anak juga akan merasa dipercaya oleh orang tuanya dan berambisi untuk selalu menyenangkan hati mereka.
  • Ajak anak untuk bersosialisasi
    Mengajak anak untuk bersosialisasi juga menjadi salah satu cara mendidik anak menjadi orang yang berani. Dengan bersosialisasi dan bertemu dengan orang-orang baru membuat anak menjadi lebih berani dan tidak terlalu bergantung dengan orang tua.

Saat anak sudah beranjak remaja dan mulai memasuki masa pubertas, mereka cenderung akan merasa takut pada hal-hal yang lebih besar. Misalnya, kemarahan guru, ujian, dan lain-lain.

Pada usia remaja, rasa kompetitif juga sudah muncul secara alami dalam diri anak-anak. Akibatnya, mereka juga kerap merasa takut akan penolakan dan kekalahan. Selain itu, mereka juga takut jika dikucilkan. Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir karena rasa takut tersebut dapat diatasi dan anak juga dapat dilatih agar lebih berani. Itulah Tips Mengajarkan Anak Untuk Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan, semoga bermanfaat.

Tips Mengajarkan Anak Untuk Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan

Referensi:

  • 5 Tips Mengajarkan Anak Laki-laki Mengekspresikan Emosinya , kompas.com
  • Cara Memicu Anak Berani Ungkapkan Pikiran dan Perasaan, dream.co.id
  • 3 Tips Membesarkan Anak yang Berani Mengungkapkan Perasaannya, parapuan.co
  • Ways To Help Your Child Express Their Feelings, lifehack.org
  • 14 Tips to Encourage Your Child to Identify and Express His Feelings, firstcry.com
Baca Yuk :

Rekomendasi Untuk Anda :


Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , , , ,