Perekonomian Jepang Mengalami Penurunan 1 Persen Kuartal I 2022. Perekonomian Jepang terkontraksi 1 persen pada kuartal I 2022 dari periode yang sama tahun lalu. Jika dibandingkan dengan kuartal IV 2021, pada tiga bulan pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami penurunan sebesar 0,2 persen. Kontraksi itu terjadi karena pembatasan COVID-19 yang diterapkan selama lonjakan kasus Omicron di Jepang.

Kinerja yang sedikit lebih baik dari konsensus pasar memprediksi penurunan hingga 0,4 persen (qtq). Perekonomian Jepang menyusut setelah pulih (rebound) pada kuartal terakhir tahun lalu.


Perekonomian Jepang Mengalami Penurunan 1 Persen Kuartal I 2022

Pemulihan yang terjadi di Negeri Matahari Terbit tak mampu bertahan lama karena meningkatnya biaya impor di tengah lonjakan harga energi, di samping pengetatan akibat omicron. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga terpukul dari sisi mata uang mengingat yen jatuh ke level terendah terhadap dolar dalam 20 tahun terakhir.

Kendati begitu, para ekonom memperkirakan ekonomi Jepang bakal bangkit lagi pada kuartal kedua atau selama April-Juni. Pasalnya, pembatasan mobilitas telah dicabut dengan peringatan.

“Kami melihat tiga hambatan untuk pemulihan yang diharapkan ini. Pertama adalah kenaikan harga pangan dan energi. Kedua, hambatan dari penguncian di China. Ketiga adalah risiko potensi kebangkitan infeksi virus,” beber Ekonom UBS Masamichi Adachi dan Go Kurihara dikutip dari AFP, Rabu (18/5).

Baca Yuk :

Menurut survei di antara para ekonom yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang, faktor lain yang memperburuk ekonomi adalah ketidakpastian akibat ketegangan hubungan internasional dan konflik militer.

Untuk periode saat ini, berbagai perusahaan besar seperti Sony dan Nissan memproyeksi raupan pendapatan ‘hati-hati’ karena tingginya ketidakpastian, terutama karena gangguan rantai pasokan dan efek penguncian di China.

Jepang saat ini sedang berjuang melawan serangkaian pukulan ekonomi, mulai dari efek pandemi hingga invasi Rusia ke Ukraina yang membuat biaya energi melonjak.

Kenaikan harga energi tersebut akhirnya menekan konsumen dan bisnis Jepang, tercermin dari pengeluaran rumah tangga Jepang yang turun 2,3 persen pada Maret dari periode sama tahun sebelumnya.

Analis memeringatkan bahwa laju kenaikan upah di Jepang tidak akan setinggi kenaikan harga. Hal ini membuat masyarakat harus mengerem belanja mereka.

Pemerintah Jepang meluncurkan program ekonomi senilai US$48,6 miliar atau setara Rp709,56 triliun (kurs Rp14.600) pada akhir bulan lalu yang mencakup subsidi bagi keluarga rumah tangga berpenghasilan rendah untuk membantu meredam dampak kenaikan harga dan biaya energi pada rumah tangga.

Perekonomian Jepang Mengalami Penurunan 1 Persen Kuartal I 2022

Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ 

Baca Yuk :

Rekomendasi Untuk Anda :


Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , , , , , , ,